Pandangan Psikologi terhadap penghafal Al-Qur’an
Muhammad Hasbi Hanifudin
Nama
Penulis : Lisya Chairani dan M.A.
Subandi
Nama
Penerbit : PUSTAKA PELAJAR
Tahun
Terbit : 2010
Tempat
Terbit : Yogyakarta
Tebal
Halaman : 283 Halaman
Harga
: Rp. 46.000.00
Buku ini membahas penelitian tentang
pengaturan diri. Menurut bahasa psikologi, pengaturan diri adalah regulasi diri
(self Regulation). Santri dituntut supaya mengatur dirinya bisa
menghafalkan Al-Qur’an. Para santri yang telah menghafal Al-Qur’an terbukti
mengalami peningkatan kecerdasan emosi sebanyak 34,3% dan mengalami kematangan
social sebanyak 42,42%. kebanyakan permasalahan yang dialami oleh para santri
adalah mereka mudah menghafal Al-Qur’an akan tetapi sulit untuk menjaganya.
Oleh karena itu, butuh kedisiplinan tinggi untuk bisa tetap menjaga hafalannya
tetap ada dalam otaknya. Dengan adanya kedisiplinan yang dijalani secara rutin
oleh santri, maka mengakibatkan meningkatnya kemampuan-kemampuan yang lain.
Istilah Regulasi Diri digunakan
secara fleksibel oleh para psikolog untuk menjelaskan tentang
perbedaan pendekatan teoritis yang ada dalam berbagai domain, terutama
kepribadian dan kognisi sosial. Dalam regulasi diri juga ada teori-teorinya.
Seperti teori perspektif perilaku operan, perspektif teori belajar sosial,
perspektif psikoanalisis, perspektif kogitif piaget, perspektif vigotsky, dan
perspektif pemrosesan informasi. Selain teori-teori tersebut ada juga
teori-teori regulasi diri seperti teori Bandura, teori regulasi diri Zimmerman,
teori negative loop feedback.
Pengalaman para santri yang
menghafal Al-Qur’an sangat beragam. Mereka mengalami banyak hal yang
menghalangi. Dalam menghafalkan Al-Qur’an, mereka dituntut untuk disiplin dengan
menghafalkan sedikit demi sedikit ayat yang mereka hafal dan menyetorkan pada
pembimbing mereka. Setelah bisa hafal ayat tersebut di luar kepala, maka mereka
dituntut untuk mengamalkan apa yang ada dalam hefalan tersebut. Karena para
santri selain menghafalkan ayat-ayat tersebut mereka juga terikat dengan apa
yang ada dalam ayat-ayat tersebut. Maka muncullah istilah menghafalkan
Al-Qur’an itu mudah akan tetapi menjaganyalah yang sulit.
Dari segi fisik, buku ini bagus
dengan cover yang tebal dan judul yang agak timbul, memberi kesan modern.
Penggunaan kertas putih sebagai dasar lebih memudahkan kita ketika membaca.
Jika dilihat dari segi isi,Buku ini membahas tentang Regulasi Diri dengan cukup
jelas dan menggunakan obyek yang sering kita temui di kalangan masyarakat.
Sehingga lebih memudahkan untuk kita melihat hasil dan membuktikannya sendiri.
Di dalam buku ini juga menunjukkan beberapa pencetus teori pengembangan diri
yang disambungkan dengan keilmuan beragama. Buku ini juga menceritakan entang
kahidupan para penghafal Al-Qur’an dan segala masalah-masalah yang sering
dihadapi oleh para penghafal.
Grafik pada cover kurang menarik
sehingga menimbulkan kesan kuno. Pembahasan dalam buku ini terlalu banyak
sehingga sulit untuk dipahami secara mudah, harus membaca beberapa kali untuk
memahaminya.
Bagi para psikolog yang tertarik
untuk meneliti kepribadian santri bisa menggunakan buku ini sebagai refernsi.
Dan bagi para orang tua yang ingin membuat anaknya manjadi lebih baik maka
dianjurkan membaca buku ini agar bisa menentukan system pembelajaran kepada
anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar