Minggu, 08 Desember 2013

Resensi Bahasa Indonesia oleh Muhammad Hasbi Hanifudin



Pandangan Psikologi terhadap penghafal Al-Qur’an
Muhammad Hasbi Hanifudin

Judul Buku       : Psikologi Santri Penghafal Al-Qur’an
Nama Penulis  : Lisya Chairani dan M.A. Subandi
Nama Penerbit : PUSTAKA PELAJAR
Tahun Terbit    : 2010
Tempat Terbit  : Yogyakarta
Tebal Halaman : 283 Halaman
Harga                : Rp. 46.000.00



       Buku ini membahas penelitian tentang pengaturan diri. Menurut bahasa psikologi, pengaturan diri adalah regulasi diri (self Regulation). Santri dituntut supaya mengatur dirinya bisa menghafalkan Al-Qur’an. Para santri yang telah menghafal Al-Qur’an terbukti mengalami peningkatan kecerdasan emosi sebanyak 34,3% dan mengalami kematangan social sebanyak 42,42%. kebanyakan permasalahan yang dialami oleh para santri adalah mereka mudah menghafal Al-Qur’an akan tetapi sulit untuk menjaganya. Oleh karena itu, butuh kedisiplinan tinggi untuk bisa tetap menjaga hafalannya tetap ada dalam otaknya. Dengan adanya kedisiplinan yang dijalani secara rutin oleh santri, maka mengakibatkan meningkatnya kemampuan-kemampuan yang lain.
       Istilah Regulasi Diri digunakan secara fleksibel oleh para psikolog untuk menjelaskan tentang perbedaan pendekatan teoritis yang ada dalam berbagai domain, terutama kepribadian dan kognisi sosial. Dalam regulasi diri juga ada teori-teorinya. Seperti teori perspektif perilaku operan, perspektif teori belajar sosial, perspektif psikoanalisis, perspektif kogitif piaget, perspektif vigotsky, dan perspektif pemrosesan informasi. Selain teori-teori tersebut ada juga teori-teori regulasi diri seperti teori Bandura, teori regulasi diri Zimmerman, teori negative loop feedback.
       Pengalaman para santri yang menghafal Al-Qur’an sangat beragam. Mereka mengalami banyak hal yang menghalangi. Dalam menghafalkan Al-Qur’an, mereka dituntut untuk disiplin dengan menghafalkan sedikit demi sedikit ayat yang mereka hafal dan menyetorkan pada pembimbing mereka. Setelah bisa hafal ayat tersebut di luar kepala, maka mereka dituntut untuk mengamalkan apa yang ada dalam hefalan tersebut. Karena para santri selain menghafalkan ayat-ayat tersebut mereka juga terikat dengan apa yang ada dalam ayat-ayat tersebut. Maka muncullah istilah menghafalkan Al-Qur’an itu mudah akan tetapi menjaganyalah yang sulit.
       Dari segi fisik, buku ini bagus dengan cover yang tebal dan judul yang agak timbul, memberi kesan modern. Penggunaan kertas putih sebagai dasar lebih memudahkan kita ketika membaca. Jika dilihat dari segi isi,Buku ini membahas tentang Regulasi Diri dengan cukup jelas dan menggunakan obyek yang sering kita temui di kalangan masyarakat. Sehingga lebih memudahkan untuk kita melihat hasil dan membuktikannya sendiri. Di dalam buku ini juga menunjukkan beberapa pencetus teori pengembangan diri yang disambungkan dengan keilmuan beragama. Buku ini juga menceritakan entang kahidupan para penghafal Al-Qur’an dan segala masalah-masalah yang sering dihadapi oleh para penghafal.
         Grafik pada cover kurang menarik sehingga menimbulkan kesan kuno. Pembahasan dalam buku ini terlalu banyak sehingga sulit untuk dipahami secara mudah, harus membaca beberapa kali untuk memahaminya.
       Bagi para psikolog yang tertarik untuk meneliti kepribadian santri bisa menggunakan buku ini sebagai refernsi. Dan bagi para orang tua yang ingin membuat anaknya manjadi lebih baik maka dianjurkan membaca buku ini agar bisa menentukan system pembelajaran kepada anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar