Sabtu, 14 Desember 2013

Resensi Bahasa Indonesia oleh Nur Fath Mita W



Akhlak Tasawuf
Nur Fath Mita Widiastuti (2833133041)
 
Judul buku       : Akhlak Tasawuf
Nama Penulis   : DRS. H,A. Mustofa
Nama Penerbit : PUSTAKA SETIA
Tahun Terbit    : 2010
Tempat Terbit  : Bandung
Tebal Halaman : 291 Halaman
Harga               : Rp. 45.000,00



Kata akhlak berasal dari bahasa arab yaitu khuluqun yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Sedangkan menurut Imam al-Ghazali akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran (lebih dahulu). Ruang lingkup akhlak membahas tent ang perbuatan-perbuatan menusia, kemudian menetapkannya apakah perbuatan tersebut tergolong perbuatan yang baik atau buruk.
Hubungan antara ilmu akhlak dengan ilmu lain dapat di bagi menjadi menjadi empat yaitu,
a.       Hubungan akhlak dengan psikologi
Psikologi menjelaskan tentang jiwa seseorang, masyarakat dan lain sebagainya yang berhubungan dengan gejala-gejala jiwa, sedangkan akhlak menjelaskan apakah jiwa jiwa mereka tersebut termasuk jiea yang baik atau buruk. Dengan demikian akhlak mempunyai hubungan yang erat dengan ilmu jiwa.
b.      Hubungan akhlak dengan sosiologi
Dalam ilmu akhlak mempelajari dan mengupas masalah perilaku, perbutan manusia yang timbul dari kehendak, sedangkan ilmu sosiologi mempersoalkan tentang kehidupan masyarakat, bagaimana menyelidiki tentang bahasa, agama, keluarga, membentuk Undang-undang, membentuk pemerintahan dan lain sebagainya. Dengan demikian ilmu sosiologi dapat menentukan baik atau buruk perilaku seseorang yang dibahas oleh akhlak.
c.       Hubungan akhlak dengan ilmu hukum
Pokok pembicaraan kedua ilmu ini adalah perbuatan manusia. Tujuannnya mengatur perbuatan manusia untuk kebahagiaan. Akhlak memerintahkan berbuat apa yang berguna dan melarang berbuat apa yang mudarat. Sedangkan ilmu hukum tidak, karena banyak perbuatan yang baik dan berguna tidak diperintahkan oleh ilmu hukum. Ilmu hukum berkata: “ jangan mencuri dan membunuh” tetapi tidak dapat berkata sesuatu tentang kelanjutannya, sedangkan akhlak dan ilmu hukum dapat mencegah pencurian dan pembunuhan dan berkata: “ jangan berpikir dalam keburukan “. Ilmu hukum dapat menjaga hak milik manusia dan mencegah orang akan melanggarnya, akan tetapi tidak dapat memerintahkan kepada si pemilik agar mempergunakan miliknya untuk kebaikan. Adapun yang dapat  memerintahkan ialah akhlak.
d.      Hubungan akhlak dengan iman
Hubungan antara akhlak dengan iman sangat erat, hal ini disebabkan keduanya mempunyai titik pangkal yang sama yaitu hati sanubari. Iman tidaklah cukup hanya disimpan dalam hati melainkan harus dilahirkan dalam perbuatan yang nyata berupa amal saleh dan tingkah laku yang baik. Dengan demikian akhlak yang baik adalah mata rantai dari keimanan. Jika iman melahirkan amal saleh maka dapat dikatakan iman itu sempurna. Sedangkan akhlak yang buruk adlah akhlak yang menyalahi prinsip-prinsip keimanan. 
  Mempelajari akhlak banyak manfaatnya salah satunya menurut Dr. Hamzah Ya’cub ada delapan yaitu:
a.       Meningkatkan derajat manusia
b.      Menuntun kepada kebaikan
c.       Manisfestasi kesempurnaan iman
d.      Keutamaan di hari kiamat
e.       Kebutuhan pokok dalam keluarga
f.       Membina kerukunan antar tetangga
g.      Untuk mensukseskan pembangunan bangsa dan negara
h.      Dunia betul-betul membutuhkan akhlakul karimah
Sejarah perkembangan ilmu akhlak. Sejarah mencatat, bahwa filosof yunani pertama kali mengemukakan pemikiran di bidang akhlak adalah Socrates (469-399 SM). Beliau di pandang sebagai perintis ilmu akhlak. Golongan terpenting yang lahir setelah Socrates dan mengaku sebagai pengikutnya ialah Cynics dan Cyrenics. Golongan Cynics didirikan oleh Antiithenes yang hidup pada tahun (444-370 SM). Menurut golongan ini bahwa ketuhanan itu bersih dari segala kebutuhan, dan sebaik-baik manusia adalah orang yang berperangai ketuhanan. Sebagai konsekuensinya, golongan ini banyak mengurangi kebutuhannya terhadap dunia, rela menerima apa adanya, suka menanggung penderitaan, tidak suka terhadap kemewahan, menjauhi kelezatan, tidak peduli denga cercaan orang lain, yang penting ia berakhlak mulia.
Adapun golongan Cyrenics didirikan oleh Aristippus yang lahir di Cyrena (kota Barka di utara Afrika). Golongan ini berpendapat bahwa mencari kelezatan dan menjauhi kepedihan ialah satu-satunya tujuan hidup yang benar. Menurutnya perbuatan yang utama adalah perbuatan yang tingkat dan kadar kelezatannya lebih besar dari kepedihan. Dengan demikian menurutnya kebahagiaan dan keutamaan itu terletak pada tercapainya kelezatan dan mengutamakannya.
Pada tahap selanjutnya datanglah Plato (427-347 SM). Ia seorang ahli fisafat Athena dan murid dari Socrates. Plato berpendapat bahwa di dalam jiwa manusia terdapat kekuatan yang bermacam-macam dan perbuatan yang utama timbul dari kemampuan membuat perimbangan dalam mendayagunakan potensi kejiwaan itu kepada hukum akal. Berdasrkan teorinya, ia berpendapat bahwa pokok-pokok keutamaan ada empat, yaitu hikmah, keberanian, keperwiraan, dan keadilan.
Setelah Plato datang Aristoteles (394-322 SM), sebagai seorang murid Plato. Ia berpendapat bahwa tujuan akhir yang dikehendaki oleh manusia adalah kebahagiaan. Jalan untuk mencapai kebahagiaan ini adalah dengan mempergunakan akal dengan sebaik-baiknya. Aristoteles juga dikenal sebagai pembawa teori pertengahan. Menurutnya tiap-tiap keutamaan adalah tengah-tengah diantar dua keburukan. Dermawan misalnya tengah-tengah antara boros dan kikir, keberanian adlah tengah-tengah antara membabi buta dan takut.
Pandangan akhlak menurut pemikiran Barat tersebut tampak memperlihatkan coraknya yang amat sekuler, yakni memisahkan pandangan akhlak tersebuta dari agama atau wahyu tuhan. Pandangan akhlak yang dikemukakan para sarjana barat itu sepenuhnya didasarkan pada pemikiran manusia semata-mata.
Baik adalah sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan. Baik merupakan sesuatu yang mempunyai nilai kebenaran atau nilai yang diharapkan, yang memberi kepuasan, yang baik berarti sesuatu yang sesuai dengan keinginan. Sesuatu yang baik dapat pula berarti sesuatu yang mendatangkan rahmat, memberikan perasaan senang atau bahagia. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa secara umum yang disebut baik adalah sesuatu yang diinginkan, yang diusahakan dan menjadi tujuan manusia. Beberapa aliran yang mempengaruhi akhlak adalah sebagai berikut:
1.      Baik buruk menurut aliran hedonisme
2.      Baik buruk menurut aliran utilitarianisme
3.      Baik buruk menurut aliran intuitionisme
4.      Baik buruk menurut aliran evolutionisme
5.      Baik buruk menurut aliran idealisme
6.      Baik buruk menurut aliran tradisionalisme
7.      Baik buruk menurut aliran naturalisme
8.      Baik buruk menurut aliran theologis
Setiap perilaku manusia didasarkan atas kehendak. Apa yang telah dilakukan oleh manusia timbul dari kejiwaan, walaupun pancanindra kesulitan melihat pada dasar kejiwaan namun dapat dilihat dari wujud kelakuannya. Maka setiap kelakuan pasti bersumber dari kejiwaan. Aspek-aspek yang mempengaruhi bentuk akhlak, yaitu insting, pola dasar bawaan, lingkungan, kebiasaan, kehendak, dan pendidikan.
Kebebasan mempunyai mempunyai pengertian yaitu terjadi apabila kemungkinan-kemungkinan untuk bertindak tidak dibatasi oleh suatu paksaan atau ketertarikan kepada orang lain. Paham ini disebut paham negatif, karena hanya dikatakan bebas dari apa, tetapi ditentukan karena apa. Seseorang dikatakan bebas apabila :
1.      Dapat menentukan sendiri tujuannya dan apa yang dilakukannya
2.      Dapat memilih antara kemungkinan-kemungkinan yang tersedia baginya
3.      Tidak terpaksa atau terikat untuk membuat sesuatu yang tidak akan dipilihnya
Kebebasan tidak lepas dari rasa tanggung jawab. Tanggung jawab mengandung arti kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri, kemampuan untuk bertanggungjawab, kedewasaan manusia, dan keseluruhan kondisi yang memungkinkan manusia melakukan tujuan hidupnya.
Selain tanggung jawab hati nurani ikut berperan karena diyakini selalu cenderung pada kebaikan dan tidak suka keburukan. Kerena sifatnya itu, hati nurani harus menjadi salah satu dasar pertimbangan dalam melaksanakan kebebasan yang ada dalam diri manusi. 
Hak adalah sesuatu yang diterima setelah manusia diberatkan atas kewajiban. Dari segi objek dan hubungannya dengan akhlak, hak dapat di bagi menjadi 5, yaitu hak hidup, hak kemerdekaan, hak memiliki, hak mendidik dan hak wanita.Kewajiban adalah suatu tindakan yang harus dilakukan bagi setiap manusia dalam memenuhi hubungan sebagai makhluk individu, sosial, dan Tuhan. Hak merupakan wewenang bukan kekuatan maka ia merupakan tuntutan terhadap orang lain. Hak itu menimbulkan kewajiban yaitu kewajiban terlaksananya hak-hak orang lain.
Mahabbah artinya cinta. Hal ini mengandung maksud cinta kepada Tuhan. Lebih luas lagi mahabbah memuat beberapa pengertian yaitu:
a.       Memeluk dan mematuhi perintah Tuhan dan membenci sikap yang melawan pada Tuhan.
b.      Berserah diri kepada Tuhan.
c.       Mengosongkan perasaan di hati dari segala-galanya kecuali dari Zat Yang Dikasihi.
Ma’rifah berasal dari kata “al- ma’rifah” yang berarti mengetahui atau mengenal sesuatu. Apabila dihubungkan dengan pengamalan tasawu, maka ma’rifah berarti mengenal Allah ketika sufi mencapai suatu maqam dalam tasawuf. Ada beberapa tanda yang dimiliki oleh sufi bila sudah mencapai tingkatan ma’rifah, antara lain:
a.       Selalu memancarkan cahaya ma’rifah padanya dalam segala sikap dan perilakunya.
b.      Tidak menjadikan keputusan pada sesuatu yang berdasarkan fakta yang bersifat nyata.
c.       Tidak menginginkan nikmat Allah yang banyak untuk dirinya.
Fana berasal dari kata al-fana yang artinya hilang atau hancur. Sehingga dapat dipahamai bahwa fana merupakan proses menghancurkan diri bagi seorang sufi agar dapat bersatu dengan Tuhan. Sedangkan Baqa berasal dari kata al-baqa yang artinya tetap, terus hidup. Dapat dipahami bahwa baqa adalah sifat yang mengiringi dari proses fana dalam penghancuran diri untuk mencapai ma’rifah.
Ijtihad artinya bahwa tingkatan taswuf seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan. Ijtihad merupakan suatu tingkatan di mana yang mencintai dan di cintai telah menjadi satu. Hulul ialah paham yang mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat di dalamnya, setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu lenyap.
Wahdatul al-wujud adalah ungkapan yang terdiri dari dua kata, yaitu wahdat dan al- wujud. Wahdat artinya sendiri, tunggal atau kesatuan, sedangkan al-wujud artinya ada. Dengan demikian wahdat al-wujud berarti kesatuan wujud. Insan kamil artinya manusia yang sempurna. Adapun yang dimaksudkan dengan manusia yang sempurna adalah sempurna dalam hidupnya. Seseorang dianggap sempurna dalam hidupnya apabila memenuhi kriteria-kriteria tertentu.
Istilah tarikat berasal dari kata At-Tariq yaitu jalan, yang berarti  menuju kepada hakikat atau jalan yang benar. Melakukan suatu ibadah sesuai dengan ajaran yang di contohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan di kerjakan oleh sahabat-sahabat dan tabi’in secara turun temurun.
Dari segi fisik, buku ini bagus dengan cover yang tebal dan judul yang agak timbul memberi kesan modern. Penggunaan kertas putih sebagai dasar lebih memudahkan kita ketika membaca. Jika dilihat dari segi buku ini membahas tentang akhlak tasawuf para sufi. Buku ini menceritakan tentang kehidupan para sufi.
Grafik pada cover kurang menarik sehingga menimbulkan kesan kuno dan membosankan. Pembahasan dalam buku ini sangatlah komplek dan berat. Daftar isi dengan pembahasan ada yang tidak sesuai.
Dengan pembahasannya yang cukup jelas maka akan memudahkan para pembaca dalam memahami apa itu Akhlak Tasawuf. Maka buku ini bisa menjadi bahan bacaan yang cukup berkualitas. Untuk itu buku ini juga menjadi salah satu bahan bacaan yang harus dibaca oleh orangb yang mau mendalami Akhlak Tasawuf atau orang yang membutuhkan referensi tentang Tasawuf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar